Media Husada Journal Of Nursing Science
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns
<p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><strong><img style="float: left; width: 243px; margin-top: 8px; margin-right: 10px; border: 2px solid #184b80;" src="https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/public/site/images/ojsadmin/mhjns02a231.png" alt="" width="231" height="346" /></strong></p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><strong>Media Husada Jurnal of Nursing Science (MHJNS)</strong> is a peer-reviewed, open access journal which publishes original research articles and review articles in all areas of nursing research and education. The aim of the journal is to contribute to the growing field of nursing practice and provide a platform for researchers, physicians and healthcare professionals. Topics of interest include:<br />1. Medical surgical nursing<br />2. Emergency nursing<br />3. Community health nursing<br />4. Mental health nursing<br />5. Gerontic nursing<br />6. Pediatric nursing<br />7. Maternity nursing<br />8. Nursing leadership and management</p> <p style="text-align: justify;">The writings can be published in this journal can be shaped in article, research reports, case study, and scientific papers. Published 3 (third) times a year, every March, July, and November.</p>STIKES Widyagama Husadaen-USMedia Husada Journal Of Nursing Science2747-1136Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Interdialytic Weight Gain Pasien GGK Yang Menjalani Hemodialisis
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/945
<p><strong><em>A</em></strong><strong><em>bstra</em></strong><strong><em>ct</em></strong></p> <p><em>Chronic kidney disease (CKD) is one of the global health problems with an increasing incidence each year. In its advanced stage, patients require renal replacement therapy, one of which is hemodialysis. A common problem among patients undergoing hemodialysis is weight gain between two dialysis sessions, known as Interdialytic Weight Gain (IDWG). IDWG is an important indicator for assessing patient adherence to fluid restrictions, as excessive IDWG can lead to shortness of breath, edema, and even death.Family support plays an important role in helping patients undergo optimal treatment. This study aimed to determine the relationship between family support and IDWG among patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis in the Cut Nyak Dien Room at Dr. Saiful Anwar Hospital, East Java Province.This study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The number of respondents was 60, selected using the purposive sampling technique. Data were collected using a family support questionnaire and an observation sheet, and then analyzed using the Spearman Rank test.The results showed no significant relationship between family support and IDWG (p = 0.536; p > 0.05), with a correlation coefficient of 0.081, indicating a very weak positive relationship. This suggests that the presence of family support does not necessarily reduce IDWG, which may be influenced by other factors such as adherence to fluid restriction, thirst control, sodium intake, duration of hemodialysis, and patient knowledge.Although the statistical analysis showed no significant relationship, family support still plays an important role in enhancing motivation, treatment adherence, and improving the quality of life of patients.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><em>Gagal ginjal kronis merupakan salah satu masalah kesehatan global dengan angka kejadian yang terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahap lanjut diperlukan terapi pengganti ginjal,salah satunya adalah hemodialisis. Masalah utama yang umumnya terjadi pada pasien yang menjalani terapi hemodialisis adalah kenaikan berat badan di antara dua waktu hemodialisis atau disebut Interdialityc Weight Gain (IDWG). Kenaikan IDWG merupakan salah satu indikator penting dalam evaluasi kepatuhan pasien terhadap pembatasan cairan. IDWG berlebih dapat menimbulkan sesak,bengkak bahkan kematian. Dukungan keluarga berperan dalam membantu pasien menjalani pengobatan secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kenaikan IDWG pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Ruang Cut Nyak Dien RSUD Dr. Saiful Anwar Provinsi Jawa Timur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 60 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan lembar observasi IDWG, kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kenaikan IDWG. Data analisis di peroleh nilai p 0,536 (p>0.05) dan nilai koefisiensi kolerasi sebesar 0,081 yang berarti hubungan dukungan keluarga dengan IDWG bersifat positif sangat lemah. Hal ini menunjukkan bahwa adanya dukungan keluarga belum tentu menurunkan IDWG kemungkinan di sebabkan oleh faktor lain seperti kepatuhan diit cairan, kontrol rasa haus, asupan natrium,lama menjalani hemodialisis dan tingkat pengetahuan pasien.</em></p>Ani Susilowati
Copyright (c) 2026 Media Husada Journal Of Nursing Science
2026-07-172026-07-177211311910.33475/mhjns.v7i2.945Hubungan Perilaku Caring Perawat Dengan Tingkat Kecemasan Keluarga Pasien Penyakit Jantung Koroner Di IGD
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/953
<p><strong><em>A</em></strong><strong><em>bstra</em></strong><strong><em>ct</em></strong></p> <p><em>Coronary Heart Disease (CHD) is one of the leading causes of mortality both globally and in Indonesia. Emergency conditions experienced by CHD patients often trigger high anxiety among family members waiting in the Emergency Department (ED). One of the key factors that helps reduce this anxiety is nurses’ caring behavior, which includes empathy, emotional support, and effective therapeutic communication. This study aimed to examine the relationship between nurses’ caring behavior and the anxiety levels of family members of CHD patients in the ED of Dr. Saiful Anwar Regional Hospital, East Java Province. This research employed a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach. A total of 66 family members accompanying CHD patients in the ED were selected using purposive sampling. The instruments used were the caring behavior questionnaire developed by Adriana (2010) and the Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZSAS) to measure anxiety levels. The results showed that most respondents rated nurses’ caring behavior as good (62 respondents or 94%), while moderate anxiety was experienced by 34 respondents (51.5%). Spearman’s Rho correlation test revealed a moderately strong and significant negative relationship between nurses’ caring behavior and family anxiety levels (r = –0.435; p = 0.000). This indicates that the better the caring behavior demonstrated by nurses, the lower the anxiety levels of family members. These findings highlight that caring behavior is an essential component of nursing practice, helping families cope with emotional stress and enhancing their trust in healthcare providers during critical situations</em>.</p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>:</em><em> caring behavior; anxiety; family members; coronary heart disease; Emergency Department.</em><em>.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Salah satu penyebab kematian tertinggi baik di Indonesia maupun di seluruh dunia adalah penyakit jantung coroner. Kondisi gawat darurat yang dialami pasien PJK sering menimbulkan kecemasan tinggi pada keluarga yang menunggu di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Faktor penting yang memikiki peran untuk mengurangi rasa cemas tersebut adalah perilaku <em>caring</em> perawat, yang meliputi empati, dukungan emosional, dan komunikasi terapeutik yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku <em>caring</em> perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pasien PJK di IGD RSUD Dr. Saiful Anwar, Provinsi Jawa Timur. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sebanyak 66 anggota keluarga pasien PJK yang mendampingi di IGD dipilih sebagai responden menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner perilaku <em>caring</em> yang dikembangkan oleh Adriana (2010) dan <em>Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZSAS)</em> untuk menilai tingkat kecemasan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai perilaku <em>caring</em> perawat berada pada kategori baik (62 responden atau 94%), sedangkan tingkat kecemasan sedang dialami oleh 34 responden (51,5%). Hasil uji korelasi <em>Spearman’s Rho</em> menunjukkan adanya hubungan negatif cukup kuat dan signifikan antara perilaku <em>caring</em> perawat dengan tingkat kecemasan keluarga pasien (r = -0,435 ; p = 0,000). Hal ini berarti semakin baik perilaku <em>caring</em> yang ditunjukkan perawat, semakin rendah tingkat kecemasan keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa perilaku <em>caring</em> merupakan aspek penting dalam praktik keperawatan, yang dapat membantu keluarga pasien menghadapi stres emosional serta meningkatkan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan di situasi kritis.</p> <p> </p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: perilaku <em>caring</em>; kecemasan; keluarga pasien; penyakit jantung koroner; Instalasi Gawat Darurat</p>Feri Dwi Setyawan
Copyright (c) 2026 Media Husada Journal Of Nursing Science
2026-07-172026-07-177213414110.33475/mhjns.v7i2.953Hubungan Titer Widal Dengan Limfosit Dan Trombosit Pasien Demam Tifoid Di Puskesmas
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/941
<p><em>Background: Typhoid fever is a systemic infection caused by Salmonella typhi that leads to hematological abnormalities, including thrombocytopenia and relative lymphocytosis, due to the effects of endotoxins on bone marrow. The Widal test is still widely used as a serological examination in primary health care; however, the correlation between Widal titer and hematological parameters remains inconsistent. Objective: To analyze the correlation between Widal antibody titer and lymphocyte and platelet counts in patients with typhoid fever at Puskesmas. Methods: This was a retrospective cross-sectional analytical observational design. Data were obtained from the medical records of typhoid fever patients at Puskesmas Dau from January to December 2024. Samples were selected using purposive sampling based on inclusion criteria: patients with typhoid fever who had results for Widal titers O, H, PA, PB, lymphocyte and platelet count, and complete medical records. Exclusion criteria included patients with other diagnoses, such as dengue fever and incomplete data. Data analysis was performed using Spearman’s Rank Correlation test with a significance level of p < 0.05. Results: The results showed no significant correlation between Widal titer and lymphocyte count, but a significant negative correlation between Widal titer and platelet count, with r = -0.146 and p = 0.039 [p < 0.05]. This indicates that higher the Widal titer, the lower the platelet count tends to be. Conclusion: There is no correlation between Widal titer and lymphocyte count. There is a significant but very weak negative correlation between Widal titer and platelet count in typhoid fever. These findings are consistent with the pathophysiology of typhoid fever, specifically thrombocytopenia resulting from the effect of S. Typhien dotoxin on bone marrow.</em></p>Geovani R Lubu PatiPrevita Zeizar Rahmawati
Copyright (c) 2026 Media Husada Journal Of Nursing Science
2026-07-012026-07-0172899710.33475/mhjns.v7i2.941Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Chronic Kidney Disease Yang Menjalani Hemodialisis
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/946
<p><strong><em>A</em></strong><strong><em>bstra</em></strong><strong><em>ct</em></strong></p> <p><em>Chronic Kidney Disease (CKD) is a significant global health problem with increasing incidence and prevalence. Patients often experience feelings of confusion, worry, and uncertainty about their future. Poor communication between patients and family members can exacerbate anxiety. This anxiety is exacerbated by the lifelong nature and high cost of hemodialysis treatment. This study aims to identify the level of family support and anxiety among CKD patients undergoing hemodialysis, as well as to analyze the relationship between family support and anxiety levels in these patients. This study uses a non-experimental quantitative cross-sectional correlation design. The study population consisted of 170 CKD patients undergoing hemodialysis at Dr. Saiful Anwar Teuku Umar Regional General Hospital in East Java. A total of 63 patients were selected using purposive sampling. Data were collected using questionnaires to assess family support and anxiety levels. The Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) was used to measure anxiety. Data analysis involved descriptive statistics and Spearman's rank correlation for hypothesis testing. The findings showed that the majority of respondents (63.50%) received good family support. At the same time, most patients (60.30%) experienced mild anxiety. A significant inverse relationship was found between family support and anxiety levels</em><em>.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><em>Cronic Kidney Disease (CKD) merupakan masalah kesehatan global yang signifikan dengan insidensi dan prevalensi yang terus meningkat. Pasien sering mengalami perasaan kebingungan, kekhawatiran, dan ketidakpastian mengenai masa depan mereka. Komunikasi yang buruk antara pasien dan anggota keluarga dapat memperburuk kecemasan. Kecemasan ini semakin parah akibat sifat seumur hidup dan biaya tinggi yang terkait dengan pengobatan hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat dukungan keluarga dan kecemasan di kalangan pasien CKD yang menjalani hemodialisis, serta menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dan tingkat kecemasan pada pasien tersebut. Penelitian ini menggunakan desain korelasi transversal kuantitatif non-eksperimental. Populasi penelitian terdiri dari 170 pasien CKD yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Saiful Anwar Teuku Umar di Jawa Timur. Sebanyak 63 pasien dipilih menggunakan sampling purposif. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk menilai dukungan keluarga dan tingkat kecemasan. Skala Penilaian Kecemasan Hamilton (HARS) digunakan untuk mengukur kecemasan. Analisis data melibatkan statistik deskriptif dan korelasi peringkat Spearman untuk pengujian hipotesis. Temuan menunjukkan bahwa mayoritas responden (63,50%) menerima dukungan keluarga yang baik. Secara bersamaan, sebagian besar pasien (60,30%) mengalami kecemasan ringan. Hubungan terbalik yang signifikan ditemukan antara dukungan keluarga dan tingkat kecemasan (nilai p = 0,036), dengan koefisien korelasi -0,947. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang menurunkan tingkat kecemasan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis. Dukungan keluarga memainkan peran krusial dalam mengurangi kecemasan pada pasien yang menjalani hemodialisis. Studi ini menyimpulkan bahwa dukungan keluarga yang kuat dapat mengurangi tingkat kecemasan, menyoroti pentingnya keterlibatan keluarga dalam perawatan pasien</em></p>Vindy Dwi Novitasari
Copyright (c) 2026 Media Husada Journal Of Nursing Science
2026-07-172026-07-177212012510.33475/mhjns.v7i2.946Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Hipertensi Pada Remaja Di Sekolah Menengah Kejuruan
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/969
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong> Hipertensi tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga mulai ditemukan pada remaja. Salah satu faktor yang berperan dalam terjadinya hipertensi pada remaja adalah pola makan. Pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi lemak dan natrium serta rendahnya asupan buah dan sayur, dapat memengaruhi keseimbangan cairan dan tekanan darah dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko terjadinya hipertensi. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi pada remaja di SMK Kartika. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan Cross-sectional. Penelitian ini juga menggunakan metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner Food Frequency Questionnaire (FFQ) dan pengukuran tekanan darah yang dilakukan pada 59 responden. Analisis data dilakukan menggunakan Uji Somers’d. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi pada remaja di SMK Kartika dengan nilai Somers’D sebesar 0,401 dan nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,000 (<0,05), yang menunjukkan hubungan bermakna dengan kekuatan sedang dan arah positif. <strong>Kesimpulan:</strong> Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan pola makan dengan kejadian hipertensi pada remaja di SMK Kartika, dimana semakin tidak sehat pola makan maka semakin tinggi risiko peningkatan tekanan darah.</p>Herlina Nengsih LeluRosly ZunaediRiza Nurhana
Copyright (c) 2026 Media Husada Journal Of Nursing Science
2026-07-102026-07-10729810510.33475/mhjns.v7i2.969Pengaruh Spiritual Coping Menggunakan Metode Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien GGK Yang Menjalani Hemodialisis
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/944
<p><em>Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive disease that requires routine hemodialysis therapy, and this condition often triggers anxiety in patients due to the physical and psychological pressure they experience. One approach to overcoming anxiety is spiritual coping, particularly through the method of dzikir. This study aims to determine the effect of Spiritual Coping using the dzikir method on anxiety levels in CKD patients undergoing hemodialysis at the Cut Nyak Dien Room of Dr. Saiful Anwar Regional General Hospital, East Java Province. This study used a pre-experimental design with a pre-test and post-test one-group design. The population consisted of 105 patients, with a sample of 83 respondents selected through purposive sampling. The research instrument used the Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS) questionnaire, which consisted of 20 statement items, with data analysis using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed that before the intervention, most respondents experienced moderate anxiety (59.0%), while after the intervention, the majority experienced mild anxiety (60.2%). The Wilcoxon test results showed a Z value of -6.604 and a p-value of 0.000 (p < 0.05), which means that there was a statistically significant effect. This proves that the dzikir method as a Spiritual Coping intervention is effective in reducing anxiety levels in CKD patients. These findings are in line with Spiritual Coping theory, which states that strengthening one's relationship with God can provide inner peace, hope, and meaning in dealing with chronic illness.</em></p> <p><em>Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan penyakit progresif yang membutuhkan terapi hemodialisis secara rutin, dan kondisi ini seringkali memicu kecemasan pada pasien akibat tekanan fisik maupun psikologis yang dialami. Salah satu pendekatan untuk mengatasi kecemasan adalah dengan spiritual coping, khususnya melalui metode dzikir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Spiritual Coping menggunakan metode dzikir terhadap tingkat kecemasan pada pasien GGK yang menjalani hemodialisis di Ruang Cut Nyak Dien RSUD Dr. Saiful Anwar Provinsi Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan pre-test and post-test one group design. Populasi berjumlah 105 pasien, dengan sampel sebanyak 83 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (SAS) yang terdiri dari 20 item pernyataan, dengan analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang (59,0%), sedangkan setelah intervensi mayoritas mengalami kecemasan ringan (60,2%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -6,604 dan p-value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik. Hal ini membuktikan bahwa metode dzikir sebagai intervensi Spiritual Coping efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan pada pasien GGK. Temuan ini sejalan dengan teori coping spiritual yang menyebutkan bahwa penguatan hubungan dengan Tuhan dapat memberikan ketenangan batin, harapan, dan makna dalam menghadapi penyakit kronis</em></p>Melany Zulistyoningrum
Copyright (c) 2026 Media Husada Journal Of Nursing Science
2026-07-172026-07-177210611210.33475/mhjns.v7i2.944Hubungan Antara Pelatihan Kegawatdaruratan Dengan Kepuasan Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat
https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/951
<p><em>Job satisfaction among Emergency Department (ED) nurses is a crucial factor as the ED constitutes the frontline service of the hospital. Emergency training is vital for enhancing competence and, subsequently, the nurses' job satisfaction. This study aims to determine the relationship between emergency training and job satisfaction among nurses in the ED of Dr. Saiful Anwar Regional General Hospital, East Java Province.This research employed a correlational study design (cross-sectional). The independent variable was emergency training, and the dependent variable was nurses' job satisfaction. Data were collected using a questionnaire administered to 44 nurses recruited via the Quota Sampling technique.The analysis results, using the Fisher's Exact Test, showed a significance value (p-value) of 0.024. Since the p<0.05, it is concluded that there is a significant relationship between emergency training and job satisfaction among nurses in the ED of Dr. Saiful Anwar Regional General Hospital, East Java Province. The training attended by the nurses was proven capable of increasing work motivation, which functions to influence, mobilize, and maintain work behavior toward achieving service goals. It is expected that these findings can provide input for the hospital management to maintain and enhance emergency training programs regularly.</em></p> <p><strong>Keywords</strong>: <em>Emergency_training; job_satisfaction; Emergency_Department.</em></p>Brian Septa Setiyo Putro
Copyright (c) 2026 Media Husada Journal Of Nursing Science
2026-07-172026-07-177212613310.33475/mhjns.v7i2.951