Media Husada Journal Of Nursing Science https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;"><strong>MHJNS</strong> is a nursing and health journal published by the Nursing Program of Widyagama Husada Health Science Institute. The journal receives manuscripts from research and literature studies in the fields of nursing and health including basic nursing science, fundamental nursing, child nursing, maternity nursing, medical surgical nursing, emergency nursing, critical nursing, disaster nursing, mental health nursing, nursing management, community nursing, gerontic and family, and health research. </p> <p style="margin: 0cm; margin-bottom: .0001pt; text-align: justify; line-height: 150%;">The writings can be published in this journal can be shaped in article, research reports, case study, and scientific papers. Published every 2 (twice) times a year, every April and November.</p> LPPMK STIKES Widyagama Husada en-US Media Husada Journal Of Nursing Science 2747-1136 PENGARUH PERMAINAN LILIN PLASTISIN TERHADAP PENINGKATAN MOTORIK HALUS ANAK AUTISME USIA 6-12 TAHUN https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/57 <p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Proses terjadinya pertumbuhan yang pesat terjadi pada masa kanak-kanak. </span><span style="vertical-align: inherit;">Proses pertumbuhan dan perkembangan ini akan dialami oleh semua anak tidak pada anak autisme. </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Autisme Spectrum Disorder</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> (ASD) faktor gangguan pada perkembangan saraf, genetik dan lingkungan sangat berperan penting sehingga dapat memunculkan gangguan pada komunikasi, interaksi sosial, dan pola perilaku. </span><span style="vertical-align: inherit;">Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengarut terapi lilin plastisin terhadap peningkatan motorik halus pada anak dengan autisme usia 6-12 tahun. </span><span style="vertical-align: inherit;">Metode penelitian ini menggunakan metode </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">pra eksperimental design</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> menggunakan desian penelitian </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">one group pretest-posttest</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">yang dilakukan pada 16 responden penderita autisme usia 6-12 tahun.di UPT Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Kota Malang. </span><span style="vertical-align: inherit;">Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan instrument penelitian berupa pedoman observasi </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Penelitian Tindakan Kelas</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">(CAR) yang dirancang untuk mengukur kemampuan target pada anak autisme kemudian di uji menggunakan SPSS dengan jenis uji wilcoxon. </span><span style="vertical-align: inherit;">Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh permainan lilin plastisin terhadap peningkatan motorik halus anak autisme (p=0,000). </span><span style="vertical-align: inherit;">Dari 16 responden terbanyak yang mengalami gangguan motorik halus sebelum diberikan permainan lilin plastisin kurang baik 10 orang (62,5%) dan cukup 6 orang (37,5%) dan gangguan motorik setelah diberikan permainan lilin plastisin cukup baik 10 orang (62,5%) dan baik 6 orang (37,5%). </span><span style="vertical-align: inherit;">Dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh permainan lilin plastisin terhadap peningkatan motorik halus anak autis usia 6-12 tahun di UPT Layanan Berkebutuhan Khusus Kota Malang</span></span></p> Noor Indalestari Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 95 102 10.33475/mhjns.v2i3.57 HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN DIET RENDAH GARAM PADA PENDERITA HIPERTENSI SISTOLIK https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/62 <p>Hipertensi sistolik merupakan kondisi tekanan darah sistolik&nbsp; &gt;140 mmHg dan tekanan darah diastolik &lt;90 mmHg.&nbsp; Kepatuhan diet rendah garam memerlukan waktu yang cukup lama sehingga dibutuhkan dukungan keluarga agar tercapainya kepatuhan diet rendah garam pada pasien Hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam&nbsp; pada&nbsp; penderita hipertensi sistolik di Puskesmas Dinoyo Kota Malang. Metode berupa penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan <em>cross sectional. </em>Sampel penelitian sebesar 52 responden menggunakan teknik<em> accidental sampling</em>, dengan kriteria inklusi responden usia &gt;18 tahun, pasien hipertensi sistolik dalam tiga bulan terakhir di Puskesmas Dinoyo Kota Malang. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner dan dianalisis dengan uji <em>kendall’s tau</em><em>-b.</em> Hasil penelitian &nbsp;didapatkan 22 responden memiliki dukungan keluarga dalam kategori baik (42,3%), memiliki kepatuhan diet rendah garam sebanyak 30 (57,2%) responden. Dari hasil uji statistic didapatkan hubungan signifikan (p=0,000) dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam pada penderita hipertensi sistolik di Puskesmas Dinoyo Kota Malang, dengan kekuatan korelasi sedang (r= 0,467). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet rendah garam di Puskesmas Dinoyo Kota Malang, sehingga penting untuk meningkatkan kepatuhan program diet rendah garam penderita hipertensi</p> Maria InaKii Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 132 140 10.33475/mhjns.v2i3.62 PERBEDAAN TANDA- TANDA VITAL DAN EKG SEBELUM DAN SESUDAH REHABILITASI JANTUNG FASE 1 PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/68 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penyakit jantung koroner adalah penimbunan plak pada pembuluh darah koroner, sehingga menyebabkan arteri koroner menyempit atau tersumbat. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis&nbsp; perbedaan tanda- tanda vital dan ekg sebelum dan sesudah rehabilitasi jantung fase 1 pada pasien penyakit jantung koroner.&nbsp; Desain penelitian ini one Group Pre dan Post Test Design. Pengambilan sampel menggunakan tehnik purposive sampling dengan jumlah sampel 32 responden pasien. Analisa data menggunakan uji&nbsp; Pairet T Sample test. Hasil penelitian&nbsp; yang menunjukkan&nbsp; normal sebelum&nbsp;&nbsp; rehabilitasi jantung fase 1&nbsp; tekanan darah sistole&nbsp; 65,63%, tekanan darah diastole 78,12%,&nbsp; nadi 78,13%, respirasi 100%, suhu 87,5%, ekg 68,75%. Dan yang menunjukkan normal&nbsp; sesudah&nbsp; rehabilitasi jantung fase 1 yaitu&nbsp;&nbsp; tekanan darah sistole 75% , tekanan darah diastole&nbsp; 93,75%,&nbsp; nadi 68,75%, respirasi 68,75%, suhu 100% ekg 87,5%. Hasil uji statistik Pairet T Sample Test didapatkan 0,012 (&lt; 0,05).&nbsp; Kesimpulannya&nbsp; adalah ada perbedaan tanda- tanda vital dan ekg sebelum dan sesudah&nbsp; rehabilitasi jantung fase 1 pada pasien penyakit jantung koroner di IPJT RSSA Malang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata kunci : Rehabilitasi, Tanda- tanda vital, Penyakit Jantung Koroner</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>Coronary heart disease is the accumulation of plaque in the coronary arteries, causing the coronary arteries to become narrowed or blocked. The purpose of this study was to analyze the differences in vital signs and ECG before and after phase 1 cardiac rehabilitation in patients with coronary heart disease. The design of this research is one group pre and post test design. Sampling using purposive sampling technique with a sample of 32 patient respondents. Analysis of the data using the Pairet T Sample test. The results showed normal before cardiac rehabilitation phase 1 systolic blood pressure 65.63%, diastolic blood pressure 78.12%, pulse 78.13%, respiration 100%, temperature 87.5%, ecg 68.75%. And what showed normal after phase 1 cardiac rehabilitation were systolic blood pressure 75%, diastolic blood pressure 93.75%, pulse 68.75%, respiration 68.75%, temperature 100% ecg 87.5%. The results of the Pairet T Sample Test statistical test obtained 0.012 (&lt;0.05). The conclusion is that there are differences in vital signs and ECG before and after phase 1 cardiac rehabilitation in coronary heart disease patients at IPJT RSSA Malang.</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><em>Key words :&nbsp; Rehabilitation, Vital signs, Coronary Heart Disease</em></p> Kuspariyah Romelah Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 167 178 10.33475/mhjns.v2i3.68 PENGARUH MOBILISASI DINI TERHADAP HEART RATE PADA PASIEN SINDROMA KORONER AKUT PASKA INFARK https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/55 Heru Santosa Santosa Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 81 88 10.33475/mhjns.v2i3.55 HUBUNGAN ANTARA PERILAKU IBU TENTANG PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN STATUS GIZI BALITA USIA 6–24 BULAN https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/58 <p>Pemberian nutrisi pada bayi dan balita yang baik akan mempengaruhi status gizi. Status gizi kurang atau lebih akan menentukan derajat kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan balita. Pemberian nutrisi pada bayi dan balita yang baik akan mempengaruhi status gizi. Status gizi merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Keadaan kurang gizi terutama pada balita akan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan fisik dan kecerdasan. Salah satu upaya dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak adalah pemberian susu formula. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui adanya hubungan antara perilaku Ibu tentang pemberian susu formula dengan status gizi balita usia 6–24 bulan di Posyandu Wilayah Kelurahan Dinoyo Kota Malang. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan <em>korelatif</em> yang dilakukan pada 60 responden ibu dengan balita usia &nbsp;6–24 bulan di Posyandu Wilayah Kelurahan Dinoyo Kota Malang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan instrumen penelitian berupa kuesioner perilaku Ibu tentang pemberian susu formula dan hasil pengukuran status gizi balita usia 6–24 bulan yang kemudian di uji menggunakan SPSS dengan uji korelasi <em>Rank Spearman</em>. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara perilaku Ibu tentang pemberian susu formula dengan berstatus gizi pada balita usia 6–24 bulan, yang berkunjung ke Posyandu Wilayah Kelurahan Dinoyo Kota Malang (<em>r</em><em><sub>vakue</sub></em> = 0,000). Dari 60 responden, hampir setengah jumlah Ibu dengan balita usia 6–24 bulan yang berkunjung ke Posyandu Wilayah Kelurahan Dinoyo Kota Malang berperilaku tepat dan sebagian besar jumlah Ibu dengan balita usia 6–24 bulan yang berkunjung ke Posyandu Wilayah Kelurahan Dinoyo Kota Malang berstatus gizi baik. Dapat disimpulkan bahwa semakin tepat Ibu dalam berperilaku tentang pemberian susu formula maka dapat meningkatkan berstatus gizi baik pada balita usia 6–24 bulan, khususnya yang berkunjung ke Posyandu Wilayah Kelurahan Dinoyo Kota Malang.</p> Arling Tamar Daworis Arling Tamar Daworis Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 103 114 10.33475/mhjns.v2i3.58 HUBUNGAN POLA DIET RENDAH GARAM DENGAN PERUBAHAN TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/66 Jeckson Leba Niga Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 141 153 10.33475/mhjns.v2i3.66 EFEKTIVITAS TERAPI KOMPLEMENTER SENAM BUGAR LANSIA TERHADAP PENURUNAN NYERI PADA LANSIA DENGAN ARTRITIS REUMATOID https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/69 <p>Artritis reumatoid atau yang biasa disebut rematik sering dialami oleh lansia karena perubahan pada sistem muskuluskeletal yang ditandai dengan nyeri dan kekakuan pada persendian. Salah satu terapi non farmakologi yang dapat diberikan pada lansia untuk mengurangi atau mengatasi nyeri artritis reumatoid yaitu dengan melakukan senam bugar lansia. Senam bugar lansia bermanfaat untuk melindungi tulang, melancarkan peredaran darah, memperbaiki postur tubuh, otot menjadi lebih kuat dan mencegah kekakuan pada persendian. Tujuan menganalisis efektivitas terapi komplementer senam bugar lansia terhadap penurunan nyeri pada lansia yang mengalami artritis reumatoid. Desain: Literatur review. Metode: Keseluruan 10 jurnal menggunakan <em>desain quasi eksperiment </em>dengan rencangan <em>pretest-posttest</em>. Rata-rata sampel yang digunakan adalah 14-44 lansia, dengan menggunakan teknik <em>purposive sampling</em>. Analisa data menggunakan uji <em>Wilcoxon</em>. Hasil keseluruhan 10 jurnal yang digunakan sebagai literatur review dapat disimpulkan bahwa nyeri akibat artritis reumatoid pada lansia berusia 55-90 tahun dengan jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan. Sebelum diberikan senam bugar lansia terdapat 44 responden mengalami nyeri berat, 38 responden nyeri sedang, dan 51 responden nyeri ringan. Setelah dilakukan senam bugar lansia sebanyak 4 responden nyeri berat, 39 responden nyeri sedang, 68 responden nyeri ringan dan 27 responden tidak nyeri. Kesimpulan dari keseluruhan 10 jurnal literatur dapat disimpulkan bahwa 9 jurnal menyatakan bahwa senam bugar lansia efektif menurunkan nyeri sendi dan 1 jurnal menyatakan senam bugar lansia efektif menurunkan nyeri sendi dengan kombinasi kompres jahe.</p> Mersiana Malo Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 179 184 10.33475/mhjns.v2i3.69 HUBUNGAN PENGETAHUAN TERHADAP STIGMA MASYARAKAT PADA PENDERITA COVID-19 DI KABUPATEN MALANG https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/56 <p>ABSTRACT</p> <p>COVID-19 is a new disease that was first discovered in Wuhan, China at the end of 2019. COVID-19 spreads very quickly to various countries around the world, until this disease is called a global pandemic. The high number of incidents and the very fast transmission of cases, as well as the absence of medicine, and news on social media whose sources are not yet clear have caused people to become restless and feel excessive fear. Such hatred can lead to their negative opinion about COVID-19, this will create a stigma. Stigma arises due to lack of knowledge about the disease and also due to the high risk of transmission of COVID-19. The purpose of this study was to determine the relationship between knowledge and community stigma in patients with COVID-19 in Patokpicis Village, Wajak District, Malang Regency. The research method used is descriptive quantitative with a cross sectional approach to 95 respondents in Patokpicis Village. The data obtained from the research distribution instrument used consisted of a demographic data questionnaire, a knowledge level questionnaire, and a stigma questionnaire. The data obtained were then analyzed by the Spearman Rho correlation test. The results showed that the people of Patokpicis village had high knowledge of 67 respondents (70.5%), and sufficient stigma as many as 87 respondents (91.6%). There is a significant negative relationship between the two variables with r= -.438 and p value(0.000) &lt; (p=0.01). This means that the higher the knowledge, the lower the stigma that occurs. Health workers who work in villages as well as cadres can provide regular education to increase public knowledge and also reduce community stigma.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Keywords: Knowledge, Stigma, Society, COVID-19</p> <p>ABSTRAK</p> <p>COVID-19 merupakan sebuah penyakit baru yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir 2019. COVID-19 menyebar sangat cepat ke berbagai negara didunia, hingga penyakit ini disebut sebagai sebuah pandemi global. Tingginya jumlah terjadinya kasus serta penularan kasus yang sangat cepat, serta belum adanya&nbsp; obat, dan pemberitaan di sosial media yang belum jelas sumbernya menyebabkan masyarakat menjadi resah dan merasakan takut yang berlebih. Ketakutan tersebut dapat menggiring opini negatif mereka tentang COVID-19, hal ini akan menimbulkan sebuah stigma. Stigma muncul akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit tersebut dan juga diakibatkan oleh tingginya resiko penularan COVID-19. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui hubungan pengetahuan terhadap stigma masyarakat pada penderita COVID-19 di Desa Patokpicis Kecamatan Wajak Kabupaten Malang.&nbsp; Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional&nbsp; pada 95 responden di Desa Patokpicis. Data yang diperoleh dari penyebaran instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari kuisioner data demografi, kuisioner tingkat pengetahuan, dan kuisioner stigma. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan uji kolerasi spearman rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat desa Patokpicis mayoritas memiliki pengetahuan yang tinggi sebanyak 67 responden (70,5%), dan stigma yang cukup sebanyak 87 responden (91,6%). Terdapat hubungan negatif yang cukup signifikan antara kedua variabel denagn r= -,438 dan p value(0,000) &lt; (p=0,01). Artinya semakin tinggi tingkat pengetahuan maka akan semakin rendah stigma yang terjadi. Tenaga kesehatan yang bertugas di desa dan juga kader bisa memberikan edukasi secara berkala untuk lebih meningkatkan pengetahuan masyarakat dan juga menurunkan stigma masyarakat.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata Kunci : Pengetahuan, Stigma, Masyarakat, COVID-19</p> Ella Lutfiana Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 89 94 10.33475/mhjns.v2i3.56 HUBUNGAN SELF CONTROL GULA DARAH DENGAN PERILAKU PENGENDALIAN PENYAKIT DIABETES MELITUS TIPE II PADA LANSIA https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/61 <p>Latar Belakang Diabetes Melitus Tipe II (DM Tipe II) adalah penyakit hiperglikemi akibat insensivitas sel terhadap insulin. DM tipe II dipengaruhi oleh Perilaku Pengendalian DM dan salah satu strategi untuk meningkatkan perilaku pengendalian penyakit DM adalah menggunakan <em>Self Control</em><em>. </em>Tujuan: Mengetahui hubungan <em>S</em><em>elf </em><em>C</em><em>ontrol</em> gula darah dengan Perilaku Pengendalian penyakit DM &nbsp;Tipe II pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota Malang. <em>&nbsp;</em>Metode: Jenis penelitiaan ini menggunakan kuantitatif yang sifatnya <em>deskriptif korelasional </em>dengan pendekatan <em>cross sectional</em>. Sampel penelitian yaitu 52 responden, pengambilan sampel menggunakan teknik <em>non probability sampling</em> dengan pendekatan <em>purposivesampling</em>. Data diambil menggunakan Kuisioner <em>Self Control</em> dan Kuisioner (DSMQ). Analisis data menggunakan <em>Uji Chi-Square. </em>Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30 responden sebanyak (57.7%) menunjukan <em>Self Control</em> rendah, 22 responden sebanyak (42.3%) menunjukkan <em>Self Control </em>tinggi. Terdapat 38 responden&nbsp; (73.1%) yang melakukan perilaku pengendalian DM tipe II Jarang, sebanyak 12 responden (23.1%) yang melakukan perilaku pengendalian DM tipe II Cukup, dan sebanyak 2 responden (3.8%) yang melakukan perilaku pengendalian DM tipe II baik. Hasil p-value 0,000 (&lt; 0,05), sehingga H1 diterima atau signifikan. Hasil korelasi antara <em>Self Control</em> dengan Perilaku Pengendalian sebesar 0,621. Berarti terdapat hubungan yang kuat dan positif antara kedua variabel. <em>&nbsp;</em>Kesimpulan: Ada hubungan <em>S</em><em>elf </em><em>C</em><em>ontrol</em> gula darah dengan Perilaku Pengendalian penyakit DM tipe II pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota Malang.</p> Vivi Putri Veronica Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 115 131 10.33475/mhjns.v2i3.61 RESPON TERHADAP PEMBELAJARAN BLENDED LEARNING DI ERA PANDEMI COVID 19 DENGAN TINGKAT STRES PADA MAHASISWA https://mhjns.widyagamahusada.ac.id/index.php/mhjns/article/view/67 <p>Latar Belakang : Pandemi covid 19 memberikan dampak yang begitu besar ke segala aspek termasuk dalam dunia pendidikan. Pendidikan pada masa pandemi menggunakan pembelajaran <em>blended learning</em> karena adanya perubahan sistem pembelajaran, menyebabkan terjadi stres pada mahasiswa yang mempengaruhi respon mahasiswa serta tingkat stres yang dialami selama pandemi covid 19. Tujuan: untuk mengetahui hubungan respon mahasiswa terhadap pembelajaran <em>blended learning</em> diera pandemi covid 19 dengan tingkat stres pada mahasiswa semester 4 Stikes Widyagama Husada Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan<em> cross sectional</em> dengan jumlah sampel 50 responden yang telah diseleksi melalui teknik sampling total sampling dan analisis data menggunakan uji <em>Kendall’s tau-b</em>. Hasil: hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar responden sebanyak (40.0%) menunjukan kurangnya respon terhadap pembelajaran <em>blended learning</em> dan sebagian kecil sebanyak (10.0%) menunjukan respon yang baik terhadap pembelajaran <em>blended learning</em>. Terdapat 33 responden yang menunjukan stres berkategori stres berat sebesar (66.0%) dan 4 responden yang menunjukan stres ringan sebesar (8.0%). Hasil uji Kendall’s tau-b didapatkan pvalue 0.000 (&lt; 0.05) sehingga di terima H1 diterima atau signifikan. Hasil korelasi respon mahasiswa terhadap pembelajaran<em> blended learning</em> diera covid 19 dengan tingkat stres sebesar 0.503 berarti terdapat hubungan yang kuat dan positif antara kedua variabel. Kesimpulan: Ada hubungan respon mahasiswa terhadap pembelajaran <em>blended learning</em> dengan tingkat stres pada mahasiswa keperawatan semester 4 Stikes Widyagama Husada Malang.</p> Clara Cassandra Resubun Copyright (c) 2021 Media Husada Journal Of Nursing Science 2021-11-25 2021-11-25 2 3 154 166 10.33475/mhjns.v2i3.67